Kamis, 02 Agustus 2012

Konsep Humanisme dalam Filosofi Cina

 Salah satu sudut pandang kehidupan yang pernah dianut
  oleh cina adalah konsep tentang ajaran Humanisme.

Simak selengkapnya..,

Manusia adalah obyek yang paling tinggi dalam penciptaaan, bukan karena dia sendiri dapat mengusahakan keselamatan, tetapi karena ia mampu membangun suatu kebudayaan dan peradaban. Karena penghargaan yang mendalam terhadap manusia, kebudayaannya, dan peradabannya, bangsa Cina dapat mengembangkan suatu pemikiran sosial dan politik yang baik  dan pandangan etis yang inspiratif. Gagasan tentang demokrasi yang ideal sebenarnya bermula dari Konfucius. Bahkan ada sementara ahli mengatakan bahwa Revolusi Perancis sebenarnya terpengaruh oleh gagasan ini, entah langsung atau tidak. Pemahaman-pemahaman tentang semantik juga berasal dari ratusan sekolah-sekolah Cina yang mempelajari nama-nama. Bangsa Cinalah sebenarnya pertama kali menemukan kertas, seni mencetak, serbuk mesiu, tanpa merasa perlu menyusun metodologi sistematis ilmiah, justru karena bentuk penghargaan bangsa Cina terhadap manusia.
              Humanisme di Eropa sudah mengalami kajian yang mendalam dan mendetail sejak Auguste Comte yang telah mempeloporinya dengan istilah agama yang humanistik. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang lemah dengan keterbatasnnya dan itu merupakan ketidaksempurnan dari sifat humanisme itu sendiri.
              Ciri humanisme dari pemikiran filsafat Cina terwakili melalui Confucius yang mempunyai ajaran hsiao, kebaktian. Yaitu bakti seorang pada leluhur dan orang tuanya. Penyembahan leluhur berhungan dengan hsiao, sebab utuk melakukan penyembahan haruslah melalui seorang anak laki-laki dalam keluarga. Pemujaan yang sunguh-sunguh pada leluhur pada masa itu memberi corak tertentu dalam masyarakat. Maka dengan demikian berkembanglah sistem yang paling kompleks dan teratur. Sebagian besar ajaran confucius ini ditujukan untuk membenarkan secara rasional ataupun menyatakan secara teoritis sistem kekeluargaan ini sebagai landasan humanisme dalam filsafat Cina. Adapun yang dijadikan sistem sosial di Cina adalah sistem keluarga. Ada lima hubungan sosial tradisional yang ada di Cina, yaitu; Hubungan antara raja dan hamba, ayah dan anak, kakak dan adik, suami dan istri, teman dan teman.
              Hormat kepada orang tua selain merupakan salah satu karakteristik pemikiran filsafat Cina juga kejiwaan orang Cina yang memiliki peranan serta pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan baik pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Hormat kepada orang tua (filial piety) mengajarkan bahwa, kedurhakaan seorang anak kepada orang tuanya adalah tindakan yang amat tercela, demikin pula orang tua yang tidak berlaku baik dan kasih sayang terhadap anaknya, kakak terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya, istri terhadap suami dan suami terhadap istri. Filial Piety mendasari konsep etika dalam pemikiran filsafat Cina, khususnya dalam hubungan kekeluargaan, yang kemudian dikembangkan melalui konsep loyality melandasi hubungan kemasyarakatan maupun kebangsaan dalam arti luas. Sifat yang kurang begitu menonjol dalam pemikiran dalam filsafat Barat
              Dengan demikian dapat dibedakan humanisme yang terdapat dalam filsafat Cina berbeda dengan humanisme yang dipahami di Barat  yang hanya menekankan pada satu aspek saja, manusia. Kalau dalam humanisme Cina ada hubungan yang erat antara manusia dengan Thien (sorga) sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan.
              Meng Tze atau Mencius  (372 – 289 S.M.) adalah murid dari Konfucius yang terbesar, ia meneruskan dan mengembangkan ajaran gurunya tersebut. Terutama ia mengajarkan demokrasi, hingga saat ini ungkapannyaa masih terkenal” Min Wei Kuei” Rakyat adalah yang utama. Mencius pernah mengatakan bahwa dinasti Chou telah kehilangan kerajaannya, karena kehilangan rakyat, kehilangan kepercayaan rakyat. Untuk itu menurutnya cara memperoleh rakyat adalah dengan mencari kepercayaan rakyat, dan jalan untuk memperolehnya ialah berikan kepada mereka apa yang disukainya. Rakyat merupakan point penting dalam suatu negara, tanpa rakyat tidak akan ada kekuasaan, dan kekuasaann itu sendidri hakekatntaya adalah untuk kepentingan rakayat. Hal ini jelas sesusi dengan prinsip demokrasi itu sendiri, yaitu dari, untuk, dan oleh rakyat. Namun ia berbeda dengan konsep demokrasi yang dipahami pada umumnya pemimpin bagi Mencius bukan atas dasar pilihan rakayat, tetapi adalah putra sorga di dunia (Thien), cuma ia haruslaah bisa diterima oleh rakyat karena ia melaksanaakan prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan. E.R. Hughes sebagaimana dikutip oleh Nio, mengatakan bahwa Mencuis kalau diapandang dari sudut Realis Barat Frame of mind (kerangka berfikirnya) bersifat Idealis, dari sudut kaum idealis ia bersifat Realis
              Bisa dipahamai praktek nilai-nilai kemanusiaan dalam filsafat Cina tidak hanya terkonsentrasi pada keluarga dalam scope kecil tetapi juga merambah pada urusan yang berkaitan dengan negara, sebagaiamana telah dikemukakan oleh Mencuis. Artinya setiap orang mempunyai potensi arif dan bijaksana asalkan ia mau belajar menghargia sifat kemanusiaannya untuk kepentingan bersama.
              Sisi lain dari pandangan filsafat Cina yang menonjol adalah tentang humanisme, yaitu masalah keseimbangan. Manusia dalam hidup ini diseyogyakan selalu menjaga keseimbangan, agar ia dapat hidup bahagia. Sifat secara rinci diajarkan dalam Yin dan Yang, yang menyatakan bahwa di alam semesta  pada dasarnya terdapat dua prinsip, yaitu prinsip positif (Yang) dan negatif (Yin). Secara sepintas nampak bahwa keduanya merupakan dua hal yang berbeda, namun sebaliknya keduanya saling melengkapi.  Walau nampak berlawanan tapi keduanya sebagai penyeimbang.
              Kalau Konfuciusme tampak memusatkan perhatiannya pada manusia yang hidup di tengah-tengah masyarakat, maka Taoisme lebih menekankan manusia sebagai manusia itu sendiri. Bahkan jika Konfuciusme dipandang sebagai yang dominan di Cina, arus pemikiran filsafat Cina jelas lebih menekankan ke arah luar diri ekslusif manusia.
            Hal ini tampak pada pandangan Konfucianism yang menyatakan bahwa dalam pergaulan, tindakan seseorang selalu berhubungan dengan orang lain. Hubungan ini dapat dikelompokkan menjadi lima pertalian pokok, yaitu, ayah dan anak, saudara dan saudara, suami dan istri, sahabat dan sahabat, serta yang berkuasa dan yang dikuasai. Dalam hubungan ini, setiap pihak berkelakuan sesuai dengan kedudukannya. Ayah mencintai anak, anak menghormati, kakak berbaik hati, adik menjunjung, suami tulus, istri patuh. Sahabat lebih tua peka, sahabat muda khidmat. Yang berkuasa murah hati, yang dikuasai setia. Tiga dari lima pertalian itu merupakan hubungan keluarga, karena keluarga dapat dianggap sebagai dasar masyarakat. Dalam lembaga sosial inilah manusia dididik diajar kebaikan, dan dibentuk tabiatnya.
C. Tinjauan Kritis Analitis
              Dalam pemikiran filsafat Cina yang di dominasi oleh Taoisme, Confucianisme, dan Budhis tampak bahwa konsep tentang ketuhanan memang tidak menjadi hal yang urgen dalam kajian teologis mereka. Hal ini barangkali disebabkan oleh fokuus mereka pada penanaman nilai ethic moral yang menjadi way of live mereka dalam tradisi yang sangat kuat mereka pegang. Namun penulis melihat ada beberapa kesamaan tentang Kosmologi Cina dengan kosmologi Islam dalam beberapa hal, karena ia bertumpu pada konsep polaritas prinsip-prinsip aktif dan reseptif. Misalnya, Tuhan (Allah) menurut para sufi lebih diidentikkan dengan sifat-sifat keindahan (jamal), seperti Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan lain sebagainya atau Yin dalam tradisi Cinanya. Sedangkan dalam perspektif teologi lebih diidentikkan dengan keagungan (jalal), seperti Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Besar, dan lainya atau yang disebut dengan Yang. Kedua perspektif ini membentuk dua kutub dalam pemikiran Islam. Perlu ada keseimbangan yang sangat bagus dan baik antar kedua kutub tersebut. Teologi negatif maupun positif diperlukan untuk melahirkan pemahaman yang benar tentang realitas Ilahi.
            Selain itu, aliran konfucianism tidak sepenuhnya sepakat tentang apakah manusia pada dasarnya baik. Hsun tzu (298-230 SM) bersikeras tentang sebaliknya. Dalam pandangannya, manusia pada dasarnya jahat, dengan kecenderungan bawaan untuk mengejar tujuan dan kesenangan pribadi. Akan tetapi, untunglah manusia  juga cerdas dan dengan kecerdasannya dapat mengolah kebaikan yang ada dalam dirinya. Sesuai dengan doktrin Konfucianism, Hsun tzu menekankan pentingnya ritual dan perilaku yang pantas terhadap orang-orang di sekeliling kita, khususnya kepada anggota keluarga. Moralitas tidak didasarkan pada alam, tetapi sebaliknya, moralitas adalah temuan inteligensi manusia, dibangun untuk menjamin kerjasama social untuk menghadapi keinginan-keinginan kita yang lebih alamiah, lebih mementingkan diri sendiri.
              Dalam konsep humanisme pemikiran filsafat Cina mempunyai corak tersendiri bila dibandingkan dengan humanisme yang dianut di Barat dan pada umumnya. Kalau di Barat manusia yang dianggap makhluk yang tidak sempurna dan mempunyai keterbatasan yang merupakan ciri khasnya dan hanya berorientasi pada sifat-sifat kemanusiaan semata. Sedangkan humanisme dalam tradisi Cina tidak ada pengingkaran pada Yang Maha Agung yang menunjukkan adanya unifikasi dengan antara manusia sebagai Makhluk dan Tuhan sebagai Khalik. Barangkali pemikiran filsafat Cina yang dalam hal ini wakili oleh Confucianisme mempunyai warna  islami, yaitu adanya Hablum min Allah wa hablum min an-Nas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar