Salah satu sudut pandang kehidupan yang pernah dianut
oleh cina adalah konsep tentang ajaran Humanisme.
Manusia adalah obyek yang paling tinggi
dalam penciptaaan, bukan karena dia sendiri dapat mengusahakan
keselamatan, tetapi karena ia mampu membangun suatu kebudayaan dan
peradaban. Karena penghargaan yang mendalam terhadap manusia,
kebudayaannya, dan peradabannya, bangsa Cina dapat mengembangkan suatu
pemikiran sosial dan politik yang baik dan pandangan etis yang
inspiratif. Gagasan tentang demokrasi yang ideal sebenarnya bermula dari
Konfucius. Bahkan ada sementara ahli mengatakan bahwa Revolusi Perancis
sebenarnya terpengaruh oleh gagasan ini, entah langsung atau tidak.
Pemahaman-pemahaman tentang semantik juga berasal dari ratusan
sekolah-sekolah Cina yang mempelajari nama-nama. Bangsa Cinalah
sebenarnya pertama kali menemukan kertas, seni mencetak, serbuk mesiu,
tanpa merasa perlu menyusun metodologi sistematis ilmiah, justru karena
bentuk penghargaan bangsa Cina terhadap manusia.
Humanisme di Eropa sudah mengalami kajian yang mendalam dan mendetail
sejak Auguste Comte yang telah mempeloporinya dengan istilah agama yang
humanistik. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang lemah dengan
keterbatasnnya dan itu merupakan ketidaksempurnan dari sifat humanisme
itu sendiri.
Ciri humanisme dari pemikiran filsafat Cina terwakili melalui Confucius yang mempunyai ajaran hsiao, kebaktian. Yaitu bakti seorang pada leluhur dan orang tuanya. Penyembahan leluhur berhungan dengan hsiao, sebab utuk melakukan penyembahan haruslah melalui seorang anak laki-laki dalam keluarga.
Pemujaan yang sunguh-sunguh pada leluhur pada masa itu memberi corak
tertentu dalam masyarakat. Maka dengan demikian berkembanglah sistem
yang paling kompleks dan teratur. Sebagian besar ajaran confucius ini
ditujukan untuk membenarkan secara rasional ataupun menyatakan secara
teoritis sistem kekeluargaan ini sebagai landasan humanisme dalam
filsafat Cina. Adapun yang dijadikan sistem sosial di Cina adalah sistem
keluarga. Ada lima
hubungan sosial tradisional yang ada di Cina, yaitu; Hubungan antara
raja dan hamba, ayah dan anak, kakak dan adik, suami dan istri, teman
dan teman.
Hormat kepada orang tua selain merupakan salah satu karakteristik
pemikiran filsafat Cina juga kejiwaan orang Cina yang memiliki peranan
serta pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan baik pribadi, keluarga,
masyarakat, bangsa, maupun negara. Hormat kepada orang tua (filial piety)
mengajarkan bahwa, kedurhakaan seorang anak kepada orang tuanya adalah
tindakan yang amat tercela, demikin pula orang tua yang tidak berlaku
baik dan kasih sayang terhadap anaknya, kakak terhadap adiknya, adik
terhadap kakaknya, istri terhadap suami dan suami terhadap istri. Filial Piety
mendasari konsep etika dalam pemikiran filsafat Cina, khususnya dalam
hubungan kekeluargaan, yang kemudian dikembangkan melalui konsep loyality
melandasi hubungan kemasyarakatan maupun kebangsaan dalam arti luas.
Sifat yang kurang begitu menonjol dalam pemikiran dalam filsafat Barat
Dengan demikian dapat dibedakan humanisme yang terdapat dalam filsafat
Cina berbeda dengan humanisme yang dipahami di Barat yang hanya
menekankan pada satu aspek saja, manusia. Kalau dalam humanisme Cina ada
hubungan yang erat antara manusia dengan Thien (sorga) sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan.
Meng Tze atau Mencius (372 – 289 S.M.) adalah murid dari Konfucius
yang terbesar, ia meneruskan dan mengembangkan ajaran gurunya tersebut.
Terutama ia mengajarkan demokrasi, hingga saat ini ungkapannyaa masih
terkenal” Min Wei Kuei” Rakyat adalah yang utama. Mencius pernah
mengatakan bahwa dinasti Chou telah kehilangan kerajaannya, karena
kehilangan rakyat, kehilangan kepercayaan rakyat. Untuk itu menurutnya
cara memperoleh rakyat adalah dengan mencari kepercayaan rakyat, dan
jalan untuk memperolehnya ialah berikan kepada mereka apa yang
disukainya.
Rakyat merupakan point penting dalam suatu negara, tanpa rakyat tidak
akan ada kekuasaan, dan kekuasaann itu sendidri hakekatntaya adalah
untuk kepentingan rakayat. Hal ini jelas sesusi dengan prinsip demokrasi
itu sendiri, yaitu dari, untuk, dan oleh rakyat. Namun ia berbeda
dengan konsep demokrasi yang dipahami pada umumnya pemimpin bagi Mencius
bukan atas dasar pilihan rakayat, tetapi adalah putra sorga di dunia (Thien), cuma ia haruslaah bisa diterima oleh rakyat karena ia melaksanaakan prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan. E.R. Hughes sebagaimana dikutip oleh Nio, mengatakan bahwa Mencuis kalau diapandang dari sudut Realis Barat Frame of mind (kerangka berfikirnya) bersifat Idealis, dari sudut kaum idealis ia bersifat Realis
Bisa dipahamai praktek nilai-nilai kemanusiaan dalam filsafat Cina tidak hanya terkonsentrasi pada keluarga dalam scope
kecil tetapi juga merambah pada urusan yang berkaitan dengan negara,
sebagaiamana telah dikemukakan oleh Mencuis. Artinya setiap orang
mempunyai potensi arif dan bijaksana asalkan ia mau belajar menghargia
sifat kemanusiaannya untuk kepentingan bersama.
Sisi lain dari pandangan filsafat Cina yang menonjol adalah tentang
humanisme, yaitu masalah keseimbangan. Manusia dalam hidup ini
diseyogyakan selalu menjaga keseimbangan, agar ia dapat hidup bahagia.
Sifat secara rinci diajarkan dalam Yin dan Yang, yang menyatakan bahwa di alam semesta pada dasarnya terdapat dua prinsip, yaitu prinsip positif (Yang) dan negatif (Yin).
Secara sepintas nampak bahwa keduanya merupakan dua hal yang berbeda,
namun sebaliknya keduanya saling melengkapi. Walau nampak berlawanan
tapi keduanya sebagai penyeimbang.
Kalau Konfuciusme tampak memusatkan perhatiannya pada manusia yang
hidup di tengah-tengah masyarakat, maka Taoisme lebih menekankan manusia
sebagai manusia itu sendiri. Bahkan jika Konfuciusme dipandang sebagai
yang dominan di Cina, arus pemikiran filsafat Cina jelas lebih
menekankan ke arah luar diri ekslusif manusia.
Hal ini tampak pada pandangan Konfucianism yang menyatakan bahwa dalam
pergaulan, tindakan seseorang selalu berhubungan dengan orang lain.
Hubungan ini dapat dikelompokkan menjadi lima pertalian pokok, yaitu,
ayah dan anak, saudara dan saudara, suami dan istri, sahabat dan
sahabat, serta yang berkuasa dan yang dikuasai. Dalam hubungan ini,
setiap pihak berkelakuan sesuai dengan kedudukannya. Ayah mencintai
anak, anak menghormati, kakak berbaik hati, adik menjunjung, suami
tulus, istri patuh. Sahabat lebih tua peka, sahabat muda khidmat. Yang
berkuasa murah hati, yang dikuasai setia. Tiga dari lima pertalian itu
merupakan hubungan keluarga, karena keluarga dapat dianggap sebagai
dasar masyarakat. Dalam lembaga sosial inilah manusia dididik diajar
kebaikan, dan dibentuk tabiatnya.
C. Tinjauan Kritis Analitis
Dalam
pemikiran filsafat Cina yang di dominasi oleh Taoisme, Confucianisme,
dan Budhis tampak bahwa konsep tentang ketuhanan memang tidak menjadi
hal yang urgen dalam kajian teologis mereka. Hal ini barangkali
disebabkan oleh fokuus mereka pada penanaman nilai ethic moral yang menjadi way of live
mereka dalam tradisi yang sangat kuat mereka pegang. Namun penulis
melihat ada beberapa kesamaan tentang Kosmologi Cina dengan kosmologi
Islam dalam beberapa hal, karena ia bertumpu pada konsep polaritas
prinsip-prinsip aktif dan reseptif. Misalnya, Tuhan (Allah) menurut para
sufi lebih diidentikkan dengan sifat-sifat keindahan (jamal), seperti Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan lain sebagainya atau Yin
dalam tradisi Cinanya. Sedangkan dalam perspektif teologi lebih
diidentikkan dengan keagungan (jalal), seperti Maha Perkasa, Maha Kuasa,
Maha Besar, dan lainya atau yang disebut dengan Yang. Kedua
perspektif ini membentuk dua kutub dalam pemikiran Islam. Perlu ada
keseimbangan yang sangat bagus dan baik antar kedua kutub tersebut.
Teologi negatif maupun positif diperlukan untuk melahirkan pemahaman
yang benar tentang realitas Ilahi.
Selain itu, aliran konfucianism tidak sepenuhnya sepakat tentang apakah
manusia pada dasarnya baik. Hsun tzu (298-230 SM) bersikeras tentang
sebaliknya. Dalam pandangannya, manusia pada dasarnya jahat, dengan
kecenderungan bawaan untuk mengejar tujuan dan kesenangan pribadi. Akan
tetapi, untunglah manusia juga cerdas dan dengan kecerdasannya dapat
mengolah kebaikan yang ada dalam dirinya. Sesuai dengan doktrin
Konfucianism, Hsun tzu menekankan pentingnya ritual dan perilaku yang
pantas terhadap orang-orang di sekeliling kita, khususnya kepada anggota
keluarga. Moralitas tidak didasarkan pada alam, tetapi sebaliknya,
moralitas adalah temuan inteligensi manusia, dibangun untuk menjamin
kerjasama social untuk menghadapi keinginan-keinginan kita yang lebih
alamiah, lebih mementingkan diri sendiri.
Dalam konsep humanisme pemikiran filsafat Cina mempunyai corak
tersendiri bila dibandingkan dengan humanisme yang dianut di Barat dan
pada umumnya. Kalau di Barat manusia yang dianggap makhluk yang tidak
sempurna dan mempunyai keterbatasan yang merupakan ciri khasnya dan
hanya berorientasi pada sifat-sifat kemanusiaan semata. Sedangkan
humanisme dalam tradisi Cina tidak ada pengingkaran pada Yang Maha Agung
yang menunjukkan adanya unifikasi dengan antara manusia sebagai Makhluk
dan Tuhan sebagai Khalik. Barangkali pemikiran filsafat Cina yang dalam
hal ini wakili oleh Confucianisme mempunyai warna islami, yaitu adanya
Hablum min Allah wa hablum min an-Nas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar